← Kembali ke Beranda

Hari Anak Nasional : Kita Hadir untuk Siapa?

Opini

23 Juli 2026

Hari Anak Nasional : Kita Hadir untuk Siapa?

Keinginan yang belakangan ini terasa paling sederhana sekaligus paling mustahil adalah: ada seseorang yang bisa pergi rapat sebagai pengganti, bukan supaya bisa istirahat, bukan supaya bisa mengurus administrasi yang menumpuk. Tapi supaya tetap bisa mengajar. Supaya tetap bisa duduk bersama anak-anak di kelas, mendengar pertanyaan mereka yang kadang aneh, kadang dalam, dan kadang keduanya sekaligus.

Ada ironi yang diam-diam tumbuh di dunia pendidikan kita. Kurikulum hadir untuk anak. Administrasi hadir untuk menjaga mutu pembelajaran anak. Rapat-rapat itu pun, kalau ditelusuri sampai ke hulunya, bermuara pada satu tujuan yang sama: anak. Tapi di lapangan, semua itu justru perlahan menarik guru. Orang yang paling dekat dengan anak. Sedikit demi sedikit. Rapat demi rapat. Laporan demi laporan.

Yang tersisa di kelas kadang bukan kehadiran yang utuh. Guru hadir secara fisik, tapi pikirannya sedang di tempat lain. Di tenggat pengisian aplikasi, di instrumen akreditasi, di tumpukan berkas yang belum selesai. Anak-anak bicara, bertanya, bahkan berkeluh kesah, tanpa sadar, sudah tidak sepenuhnya ada untuk mereka. Bukan karena tidak mau. Tapi karena sistem yang katanya untuk mereka, telah menguras habis ruang kita untuk hadir.

Hari Anak Nasional seharusnya jadi momen kita bertanya dengan jujur: di antara semua yang sudah kita bangun atas nama anak, kurikulum, standar, aplikasi, laporan. Seberapa banyak yang benar-benar sampai ke mereka? Dan seberapa banyak yang justru diam-diam memisahkan kita dari mereka