---
title: "Ngobrol, Bukan Prompting. Pendekatan Alternatif Penggunaan AI yang Lebih Humanis"
description: "Di tengah maraknya diskusi soal prompt engineering, saya justru mulai merasa ada yang pelan-pelan hilang dari cara kita memperlakukan AI."
image: "https://r2.maarifdh.sch.id/dok/1759746788872-1000078881.jpg"
---
# Ngobrol, Bukan Prompting. Pendekatan Alternatif Penggunaan AI yang Lebih Humanis

- Tanggal: 3 Oktober 2025
- Jenis: Opini
- Tempat: Ruang Kurikulum
- Peserta: Kurikulum
- URL HTML: https://kurikulum.maarifdh.sch.id/berita/ngobrol-bukan-prompting-15

> Di tengah maraknya diskusi soal prompt engineering, saya justru mulai merasa ada yang pelan-pelan hilang dari cara kita memperlakukan AI.

## Isi

Kebanyakan orang hari ini memperlakukan AI seperti vending machine:

Masukkan prompt paling lengkap, pencet tombol, dan keluarlah hasil yang ‘sempurna’.

Tapi...

apakah itu benar-benar membantu kita berpikir lebih dalam?

Saya tidak ingin memperlakukan AI seperti manusia.
Tapi saya juga tidak ingin saya sendiri kehilangan jati diri sebagai manusia yang punya rasa, punya cara berbicara, dan punya pertimbangan kontekstual.

Karena itu saya memilih satu pendekatan:
AI sebagai asisten yang diajak ngobrol.
Saya mulai dengan cerita: tentang murid saya, tentang kelas yang suka ramai, tentang tantangan mengajar IPA kelas 8.

Lalu AI (dalam hal ini ChatGPT) merespons. Bukan hanya dengan teks, tapi dengan insight.
Ia bantu saya bertanya balik:

“Kalau anak-anak seperti itu, gimana kalau kita ubah pendekatan jadi proyek kecil?”

“Apa kamu ingin asesmennya visual biar cocok sama gaya belajar mereka?”

Percakapan ini kadang lebih panjang, lebih lambat...
Tapi justru di sanalah saya merasa mengalami proses deep learning. Dan bukan hanya saya. AI-nya juga makin ngerti konteks saya.

Banyak guru hari ini menggunakan AI untuk membuat RPP. Dan benar, hasilnya bisa cepat jadi. Tapi seringkali tidak relevan dengan realita kelas, tidak menyentuh kebutuhan murid, dan tidak ada makna dalam proses menyusunnya.

Beda rasanya ketika saya menyusun RPP sambil ngobrol:

“Anak-anak ini lagi puber. Tapi aku gak mau benturkan rasa suka mereka. Ada ide gak?”
Atau,
“Mereka suka eksplorasi, tapi males nulis. Bisa gak bikin asesmen yang tetap valid?”

Di sinilah saya merasa bahwa saya, sebagai guru, tetap berpikir.
Tetap menjadi manusia.
Dan AI bukan mengurangi proses itu,
tapi malah menemani saya menjalaninya.

Pembelajaran mendalam ( deep learning ) bukan cuma tentang siswa.
Kita juga harus mengalami proses berpikir yang dalam.
Kalau interaksi kita dengan AI hanya satu arah. Cepat, instan, selesai. Maka kita sedang kehilangan potensi terbesar dari AI:
kemampuan untuk jadi cermin, partner berpikir, dan penantang lembut dari zona nyaman kita.

Dan untuk itu... kita perlu ngobrol, bukan sekadar memerintah.

## Gambar & file (untuk vision / download)

- Dokumentasi (cover): https://r2.maarifdh.sch.id/dok/1759746788872-1000078881.jpg

