---
title: "Merayakan Pendidikan di Antara Smartboard dan Sekolah Tanpa Listrik"
description: "Hari Pendidikan Nasional selalu menjadi undangan untuk berhenti sejenak, bukan sekadar merayakan, tapi juga merenung. Di tengah semangat besar transformasi…"
image: "https://r2.maarifdh.sch.id/dok/1777677448146-1000135620.jpg"
---
# Merayakan Pendidikan di Antara Smartboard dan Sekolah Tanpa Listrik

- Tanggal: 2 Mei 2026
- Jenis: Opini
- Tempat: Indonesia
- Peserta: Seluruh pendidik
- URL HTML: https://kurikulum.maarifdh.sch.id/berita/merayakan-pendidikan-di-31

> Hari Pendidikan Nasional selalu menjadi undangan untuk berhenti sejenak, bukan sekadar merayakan, tapi juga merenung. Di tengah semangat besar transformasi digital, pemerintah terus meluncurkan berbagai kebijakan: Platform Merdeka Mengajar, ANBK, ratusan ribu layar interaktif yang didistribusikan…

## Isi

Yang terjadi di lapangan kerap berbeda dari apa yang tergambar dalam dokumen kebijakan. Guru-guru dibebani administrasi yang tebal dan berlapis, RPP dengan format yang kaku, kolom yang harus diisi, laporan yang tak ada habisnya. Maka ketika teknologi menawarkan jalan pintas, wajar jika banyak yang mengambilnya. RPP dibuat dalam hitungan menit lewat aplikasi AI, soal ujian di-generate sekali klik. Di atas kertas semuanya tampak rapi dan lengkap. Tapi karena dokumen itu tidak lahir dari kepala dan hati gurunya sendiri, ia pun tidak benar-benar dipahami, apalagi dihayati. Yang terjadi di dalam kelas kemudian bisa ditebak, guru kembali ke cara yang paling ia kuasai, menyuruh siswa membaca buku, menunggu waktu berlalu, lalu bel berbunyi. Digitalisasi yang seharusnya membantu proses belajar justru berakhir membantu proses pelaporan. Dua hal yang jaraknya sangat jauh.

Di sisi siswa, ceritanya tidak kalah ironis. Generasi yang tumbuh bersama gawai ternyata tidak otomatis melek teknologi dalam makna yang sesungguhnya. Mereka bisa berjam-jam di media sosial, tapi tergagap saat diminta mengetik di Microsoft Word atau sekadar mengarahkan kursor mouse. Ketika ujian diselenggarakan berbasis komputer, sebagian dari mereka terhambat bukan karena tidak tahu jawabannya, tapi karena tidak akrab dengan alatnya. Dan sementara itu, di sekolah-sekolah pelosok, guru harus berjalan jauh ke pusat kecamatan hanya untuk mendapat sinyal internet, semata-mata agar bisa mengisi platform yang diwajibkan. Digitalisasi digulirkan seolah kesiapannya sudah merata, padahal kenyataan di lapangan bercerita sebaliknya.

Maka yang dibutuhkan sebenarnya bukan lebih banyak aplikasi, melainkan kejujuran dalam menetapkan prioritas. Untuk pemerintah, ada baiknya bertanya dulu, apakah semua ruang kelas sudah layak? Apakah listrik sudah menyala dengan stabil? Apakah anak-anak di desa terpencil sudah punya akses ke sekolah yang benar-benar bisa dijangkau? Fondasi itu yang semestinya diselesaikan lebih dulu, sebelum smart TV dipasang di tembok yang atapnya masih bocor. Dan soal administrasi guru, sudah waktunya sistem ini percaya pada guru. RPP tidak harus berbentuk dokumen formal berlapis kolom. Biarkan ia menjadi catatan hidup, coretan jujur seorang guru tentang apa yang ingin ia sampaikan kepada murid-muridnya hari ini. Format yang terlalu kaku justru membunuh kreativitas yang seharusnya mengalir bebas di dalam kelas. Teknologi boleh hadir sebagai alat bantu, tapi hal-hal yang menyentuh jiwa pembelajaran, bagaimana guru merancang cara mengajar, bagaimana ia menyusun soal yang benar-benar menggambarkan pemahamannya tentang muridnya, itu sebaiknya tetap lahir dari tangan dan pikiran manusianya sendiri. Karena pendidikan, pada akhirnya, bukan urusan layar. Ia adalah urusan hati.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026

## Gambar & file (untuk vision / download)

- Dokumentasi (cover): https://r2.maarifdh.sch.id/dok/1777677448146-1000135620.jpg

