---
title: "Hari Guru Nasional : Mengingat Lagi untuk Siapa Kita Ada"
description: "Beberapa tahun pertama mengajar, kita pulang dengan cerita tentang siswa, tingkahnya, kelakuannya, semangatnya, dan kemajuannya. Tapi semakin ke sini, kita…"
image: "https://r2.maarifdh.sch.id/dok/21-ChatGPT Image Aug 16, 2026, 01_47_51 PM.jpg"
---
# Hari Guru Nasional : Mengingat Lagi untuk Siapa Kita Ada

- Tanggal: 25 November 2025
- Jenis: Opini
- Tempat: Ruang Kurikulum
- Peserta: Kurikulum
- URL HTML: https://kurikulum.maarifdh.sch.id/berita/hari-guru-nasional-21

> Beberapa tahun pertama mengajar, kita pulang dengan cerita tentang siswa, tingkahnya, kelakuannya, semangatnya, dan kemajuannya. Tapi semakin ke sini, kita pulang membawa cerita administrasi, unggah dokumen ini, dokumen itu, scan ini, scan itu, tanda tangan, dan segala macam dokumen yang menjauhkan…

## Isi

Di banyak sekolah guru sekarang lebih terlihat di depan layar daripada bersama muridnya sendiri. Jam mengajar selesai, guru belum pulang. Bukan karena ingin menambah waktu bersama siswa, tapi karena format laporan berubah, aplikasi baru, dokumen baru yang harus diisi, dan data yang harus diinput di sistem lainnya. Pelatihan bukan lagi untuk meningkatkan kompetensi mengajar, namun sebagai pemenuhan tuntutan administrasi. Pelatihan bukan lagi untuk peningkatan kualitas bersama siswa, namun malah menjauhkan diri dengan siswa. Rasanya seperti guru ini perlahan bergeser, dari mendidik menjadi pengisi dokumen.

Tanpa kita sadari, perubahan ini membawa jarak. Murid mulai jarang cerita, bukan karena mereka tidak punya cerita. Tapi karena guru mereka selalu tidak punya waktu dan terpaksa bilang "Sebentar ya, nak. Bapak ada kerjaan."

Guru mulai kehilangan percakapan kecil yang dulu membuat kelas terasa hidup.

Benar kita tetap masuk kelas. Benar kita tetap mengajar. Namun hati, waktu, dan energi kita sudah tersandera oleh administrasi dan indikator kinerja. Padahal murid tidak butuh guru yang indikator kinerjanya centang semua, mereka butuh guru yang ada untuk mereka.

Banyak guru bukan tidak mau kembali ke kelas dengan sepenuh jiwa. Mereka mau, mereka mungkin rindu. Tapi setiap kali masuk. Setiap kali resolusi guru di awal tahun ajaran baru : "Saya harus fokus ke siswa". Muncul notifikasi baru. Kurikulum berubah. Modul ajar berubah. Format RPP berubah. Materi diubah. Tugas baru.

Ironinya guru diminta mengutamakan siswa. Namun dalam waktu yang sama diminta mengisi administrasi yang justru menjauhkan guru dengan siswa. Seolah sistem ingin guru jadi inspirator di kelas sambil mencentang dan mendokumentasikan seberapa rapi, dan lengkap berkasnya. Bukan seberapa dekat guru dan seberapa nyata perubahan yang terjadi ke siswa.

Pada akhirnya yang diharapkan adalah bukan penghapusan administrasi. Hanya memanusiakan administrasi. Bukan menolak pertanggung jawaban. Guru hanya ingin dapat ruang napas agar bisa kembali menjalankan inti profesi. Mendampingi anak-anak. Pendidikan sangat maju bukan karena kerapian administrasi, tapi guru yang semakin hadir untuk kebutuhan tumbuh kembang siswanya.

Karena ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani tidak bisa hidup di tengah dokumen administrasi.

Selamat Hari Guru Nasional untuk semua pendidik yang terus bertahan, menjaga nilai seorang pendidik, tetap bercahaya di ruang kelas, meskipun dunia tidak berhenti meminta centang administrasi.

## Gambar & file (untuk vision / download)

- Dokumentasi (cover): https://r2.maarifdh.sch.id/dok/21-ChatGPT Image Aug 16, 2026, 01_47_51 PM.jpg

