---
title: "Apa Sebenarnya yang Kita Ajarkan? Refleksi Guru dengan Pendekatan UbD"
description: "Di tengah rutinitas guru, kita sering kali disibukkan dengan hal-hal administratif. Format RPP yang harus sesuai juknis, tanda tangan di setiap lembar, hingga…"
image: "https://r2.maarifdh.sch.id/dok/1758873485990-Gemini_Generated_Image_quk1uiquk1uiquk1.jpg"
---
# Apa Sebenarnya yang Kita Ajarkan? Refleksi Guru dengan Pendekatan UbD

- Tanggal: 18 Agustus 2025
- Jenis: Opini
- Tempat: Ruang Kurikulum
- Peserta: Kurikulum
- URL HTML: https://kurikulum.maarifdh.sch.id/berita/apa-sebenarnya-yang-11

> Di tengah rutinitas guru, kita sering kali disibukkan dengan hal-hal administratif. Format RPP yang harus sesuai juknis, tanda tangan di setiap lembar, hingga kelengkapan berkas yang tampak sempurna di mata pengawas. Semua itu memang penting sebagai bukti kerja. Namun, pertanyaan yang lebih…

## Isi

Kenyataannya, tidak sedikit guru yang masih merasa cemas kalau modul ajar atau RPP mereka belum lengkap. Misalnya, identitas sekolah belum ditulis penuh, NPSN tidak dicantumkan, jumlah halaman tidak sesuai, bahkan warna kertas harus hitam putih. Padahal, hal-hal teknis seperti itu sebenarnya tidak mempengaruhi kualitas pembelajaran di kelas. Guru akhirnya lebih sibuk mengurus tampilan dokumen daripada memikirkan pengalaman belajar yang akan dialami siswa.

Di sinilah pendekatan Understanding by Design (UbD) menawarkan cara pandang yang segar. UbD mengingatkan kita bahwa inti pembelajaran bukan sekadar menyelesaikan silabus atau melengkapi komponen administrasi, melainkan mengarahkan siswa pada pemahaman yang bermakna dan bisa mereka gunakan dalam kehidupan nyata.

UbD memiliki tiga tahap penting. Pertama, guru diajak untuk menentukan hasil akhir: apa yang benar-benar ingin dicapai dari sebuah pembelajaran? Bukan hanya hafalan, melainkan “big idea” yang bisa ditransfer ke berbagai konteks. Kedua, guru perlu merumuskan bukti pencapaian. Artinya, seperti apa bentuk pemahaman siswa yang bisa kita lihat? Bukan hanya pilihan ganda, tetapi juga proyek, presentasi, atau kemampuan menjelaskan konsep dengan bahasa mereka sendiri. Ketiga, barulah kita merancang pengalaman belajar: kegiatan di kelas yang membantu siswa sampai pada pemahaman tersebut, entah melalui diskusi, eksperimen, studi kasus, atau tugas kolaboratif.

Pendekatan ini membuat pembelajaran lebih mendalam. Anak-anak tidak lagi belajar demi ujian, tetapi untuk memahami dan mengaitkan pengetahuan dengan dunia mereka. Guru pun tidak hanya menjadi penyampai materi, melainkan perancang pengalaman belajar yang bermakna. Dengan begitu, pembelajaran di kelas menjadi ruang tumbuh yang sesungguhnya: menyiapkan siswa untuk menghadapi hidup, bukan sekadar menghadapi ujian.

Akhirnya, UbD mengajak kita semua untuk kembali pada pertanyaan mendasar: anak-anak ini sebenarnya mau kita ajarkan apa? Jika jawaban kita jelas, maka administrasi dan format hanyalah alat bantu, bukan tujuan utama.

Saat guru berani memulai dari garis besar, pembelajaran akan jauh lebih berkesan, mendalam, dan memberi makna bagi siswa yang kita dampingi.

## Gambar & file (untuk vision / download)

- Dokumentasi (cover): https://r2.maarifdh.sch.id/dok/1758873485990-Gemini_Generated_Image_quk1uiquk1uiquk1.jpg

